Selasa, 26 Desember 2017

Menenun (Nyesek) Warisan Budaya Leluhur yang Mulai Ditinggalkan




Aisyah (14) salah satu penenun muda di Desa Sade Rembitan, Kecamatan Pujut Kabupaten 
Lombok Tengah yang sedang membuat benang sebagai bahan pembuatan kain tenun. /hnsi

Menenun merupakan salah satu budaya atau pekerjaan kreatif perempuan Suku Sasak Lombok. Pada zaman dahulu semua perempuan Sasak harus bisa menenun atau diwajibkan bisa menenun. Menenun merupakan kemampuan wajib bagi perempuan sasak pada zaman dahulu, bahkan perempuan pada zaman dahulu tidak bisa menikah sebelum bisa menenun. Menenun merupakan salah satu indikator pengukur kedewasaan bagi perempuan Sasak pada zaman dahulu. Akan tetapi, seiring dengan kemajuan zaman dan arus modern yang sampai saat ini berkembang begitu pesatnya kemampuan perempuan untuk menenun mulai berkurang bahkan hanya ada beberapa wilayah di Lombok yang perempuannya masih melanjutkan tradisi menenun tersebut termasuk perempuan Desa Sade Lombok Tengah yang masih menjadikan warisan menenun tersebut sebagai warisan turun temurun.

Sebelum membuat kain tenun hal yang pertama dilakukan adalah membuat benang sebagai bahan utama pembuatan kain tenun. Benang tersebut terbuat dari kapas. Perempuan sade biasanya mendapatkan kapas dari luar desanya yang biasanya ditanam di tegal (Sebutan untuk area pegunungan yang ditanami tanaman tumpang sari).

Proses pembuatan benang biasanya dilakukan oleh orang yang sudah lanjut usia, akan tetapi pada saat ini proses pembuatan benang sudah diwariskan kepada perempuan-perempuan muda Desa Sade karena alasan perempuan yang bisa membuat benang sudah mulai langka. Adapun pembuatan benang sebagai di bagi menjadi beberapa proses yaitu.

1.      Bebetuk, yaitu proses mengolah kapas menjadi halus. Proses tersebut dilakukan dengan alat tradisional yang terbuat dari bambu dan benang.
2.      Gulung, kapas yang sudah halus digulung atau dibuat menjadi bentuk bulat memanjang sekitar kurang lebih 15 cm
3.      Minsah, adalah proses dengan alat tradisional yang disebut Arah. Proses inilah kapas dibuat menjadi benang.
4.      Pewarnaan, setelah menjadi benang, proses selanjutnya adalah pewarnaan dengan menggunakan daun taum atau menggunakan kulit kayu.

Setelah  benang jadi barulah proses menenun dimulai.

7 komentar:

  1. Hmmm kira-kira bagaimana cara kita melestarikan budaya nyesek tersebut

    BalasHapus
  2. Wah sangat bermanfaat ya.. Sama seperti yang akan saya posting hehe jadi tambah wawasan dehh

    BalasHapus
  3. budaya yg semakin hari semakin terkikis oleh perkembangan zaman. miris, ciri dan identitas sebagai suku sasak perlahan mulai hilang. generasi penerus apa kabar? yang katanya cinta budaya. ๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
  4. Sebuah sikap yang menunjukan hal yang berbau tradisional pada zaman modern ini memang sangat jarang ditemukan, apa lagi dibicarakan. Banyak yang beranggapan, dengan mengenal dan mengethui saja dirasa sudah cukup dan dapat dikatakan berwawasan, padahal disini kita selaku pemilik kebudayaan harus mempertahankannya melalui sikap yg kongkrit bukan hanya dengan sekedar mengetahui saja.

    BalasHapus
  5. Sungguh sangat bermanfaat dan menambah wawasan ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus