![]() |
Aisyah
(14) salah satu penenun muda di Desa Sade Rembitan, Kecamatan Pujut Kabupaten
Lombok Tengah yang sedang membuat benang sebagai bahan pembuatan kain tenun. /hnsi
|
Menenun
merupakan salah satu budaya atau pekerjaan kreatif perempuan Suku Sasak Lombok.
Pada zaman dahulu semua perempuan Sasak harus bisa menenun atau diwajibkan bisa
menenun. Menenun merupakan kemampuan wajib bagi perempuan sasak pada zaman
dahulu, bahkan perempuan pada zaman dahulu tidak bisa menikah sebelum bisa
menenun. Menenun merupakan salah satu indikator pengukur kedewasaan bagi
perempuan Sasak pada zaman dahulu. Akan tetapi, seiring dengan kemajuan zaman
dan arus modern yang sampai saat ini berkembang begitu pesatnya kemampuan perempuan
untuk menenun mulai berkurang bahkan hanya ada beberapa wilayah di Lombok yang
perempuannya masih melanjutkan tradisi menenun tersebut termasuk perempuan Desa
Sade Lombok Tengah yang masih menjadikan warisan menenun tersebut sebagai
warisan turun temurun.
Sebelum membuat
kain tenun hal yang pertama dilakukan adalah membuat benang sebagai bahan utama
pembuatan kain tenun. Benang tersebut terbuat dari kapas. Perempuan sade
biasanya mendapatkan kapas dari luar desanya yang biasanya ditanam di tegal (Sebutan untuk area pegunungan yang
ditanami tanaman tumpang sari).
Proses pembuatan
benang biasanya dilakukan oleh orang yang sudah lanjut usia, akan tetapi pada
saat ini proses pembuatan benang sudah diwariskan kepada perempuan-perempuan
muda Desa Sade karena alasan perempuan yang bisa membuat benang sudah mulai
langka. Adapun pembuatan benang sebagai di bagi menjadi beberapa proses yaitu.
1.
Bebetuk, yaitu proses mengolah kapas
menjadi halus. Proses tersebut dilakukan dengan alat tradisional yang terbuat
dari bambu dan benang.
2.
Gulung, kapas yang sudah halus digulung
atau dibuat menjadi bentuk bulat memanjang sekitar kurang lebih 15 cm
3.
Minsah, adalah proses dengan alat
tradisional yang disebut Arah. Proses
inilah kapas dibuat menjadi benang.
4.
Pewarnaan, setelah menjadi benang,
proses selanjutnya adalah pewarnaan dengan menggunakan daun taum atau
menggunakan kulit kayu.
Setelah benang jadi barulah proses menenun dimulai.

Hmmm kira-kira bagaimana cara kita melestarikan budaya nyesek tersebut
BalasHapusWah sangat bermanfaat ya.. Sama seperti yang akan saya posting hehe jadi tambah wawasan dehh
BalasHapusbudaya yg semakin hari semakin terkikis oleh perkembangan zaman. miris, ciri dan identitas sebagai suku sasak perlahan mulai hilang. generasi penerus apa kabar? yang katanya cinta budaya. ๐
BalasHapusSebuah sikap yang menunjukan hal yang berbau tradisional pada zaman modern ini memang sangat jarang ditemukan, apa lagi dibicarakan. Banyak yang beranggapan, dengan mengenal dan mengethui saja dirasa sudah cukup dan dapat dikatakan berwawasan, padahal disini kita selaku pemilik kebudayaan harus mempertahankannya melalui sikap yg kongkrit bukan hanya dengan sekedar mengetahui saja.
BalasHapusSungguh sangat bermanfaat dan menambah wawasan ๐๐๐
BalasHapuslanjutkan.
BalasHapusBagus bagus
BalasHapus